( Untuk kepentingan penerbitan, beberapa posting tentang Novel ‘La Cauda’ akan saya hidden. Namun sekedar untuk berapresiasi, berikut saya kembali memuat cuplikan di salah satu halaman novel tersebut. Dalam bab II Novel ‘La Cauda’ ada bagian penting dari cerita yang saya tulis dengan flash back letter. )

……………………………………………………..

Angin dingin Samudra Hindia masih kencang berhembus. Namun dari arah keremangan, sebuah kendaraan four wheel drive melaju menyibak Kawasan Teluk Penyu. Suaranya meraung, sementara keempat rodanya melibas pasir pantai dan menerbangkannya menyerupai gulungan badai. Di dalam mobil, dua pemuda terlihat terguncang – guncang mengikuti manuver kemudi. Wajah keduanya mengandung ketergesaan, terbukti detik waktu benar – benar mereka kejar untuk bisa mendekat ke arah tenda bigtop di areal pantai.

Di sisi belakang sebuah caravan, tepatnya beberapa puluh meter di luar panggung pertunjukan sirkus, seorang pemuda ternyata telah menunggu untuk kemudian terburu - buru masuk ke dalam mobil tersebut.. Mungkin dikarenakan hingar bingar dentuman sound ribuan watt dan kilatan lampu – lampu suar dari atas pilar – pilar knockdown stage, atau karena atraksi di panggung yang mengundang sorak sorai, sehingga gerak gerik kendaraan itu justru bisa terlepas dari perhatian orang banyak.

Masih sangat lekat dalam ingatan Cauda, itulah peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam. Tepatnya ketika Sirkus Orient mengadakan pertunjukan di Kota ‘Pantai’ Cilacap. Itulah saat – saat terakhir Cauda mengenakan kostum trapeze, karena pada malam tersebut dengan dijemput kedua temannya yaitu Ikbal dan Sandi, dia akhirnya nekad meninggalkan Sirkus Orient. Termasuk meninggalkan ayahnya yang juga bekerja di sana.

“Maafkan aku ayah,” kata – kata itu yang berulang menyalak di batin Cauda. Tentu waktu itu dia pun menyadari,. bahwa ayahnya dan orang – orang sirkus telah dibuat sangat cemas mencari. Cauda juga sangat paham bahwa malam itu dia pergi hanya dengan membawa keinginan di dadanya yaitu agar bisa ikut kedua temannya untuk mendaftar di akademi maritim.

Malam ini, rupanya peristiwa tersebut membuat Cauda lama termenung. Pertemuan dengan Sandi sore tadi, terbukti berulang mencabik batinnya. Rangkaian gambar masa lalunya mendadak kembali menggelincir. Cerita lama tentang ‘tiga sahabat’, menyeretnya kembali teringat dengan sosok Sandi dan Ikbal. Hari ini, ternyata Tuhan secara tiba - tiba mempertemukannya lagi dengan Sandi. Bahkan kedatangan sahabat lamanya itu tak pelak harus meretas beberapa keinginan lama yang belum terwujud.

“Apa sebenarnya rencana Tuhan terhadapku ? Apakah Sandi betul – betul tulus menemuiku di Kampung Laut ? Lantas bagaimanakah dengan kabar Ikbal ? Sedang berada di manakah dia ?”

Beberapa saat kemudian, tangan Cauda merogoh sesuatu. Selembar kertas kosong diraihnya dari tumpukan buku di sudut meja. Sejenak dia seperti berusaha untuk mengingat dan kembali mencari – cari sesuatu. Sampai akhirnya sebersit kegembiraan terbit, ketika sudut matanya menemukan sebuah benda. Sebuah kartu nama yang telah lusuh, dipegangnya. Agak lama dia cermati.

Kemudian dengan diawali beberapa kali menarik nafas dalam, Cauda meraih alat tulis. Ditulisinya kertas kosong :

Kepada sahabatku : Ikbal.

( Mungkin surat ini baru bisa kamu baca setelah kembali dari berlayar. )

Badai Nicolas sudah bergeser ke arah tenggara, namun langit di atas Samudra Hindia masih digantung rasa gelisah. Bulan hanya tersisa pucat karena lebih sering sinarnya berselinap di gulungan awan pekat. Adalah raut cemas yang terus membekas ketika kapal yang membawamu dari Pelabuhan Banjarmasin terpaksa harus berhenti dan berlindung di sekitar Teluk Popoh Besole Tulungagung setelah lolos dari terjangan angin dan ombak besar.

Kejadian tersebut adalah gambaran dari suratmu yang aku terima beberapa waktu yang lalu. Kejadian yang menyadarkanku bahwa perjalanan manusia memang selalu dibayangi keterbatasan. Kita menjadi sangat kecil dan fana apabila harus berhadapan dengan kekuasaan Sang Pencipta.

“Padahal Tuhan telah menciptakan kita sebagai petualang.” Itulah retorikamu yang penuh semangat. Kata – kata yang pernah kau ucapkan ketika aku, kamu dan Sandi pernah hampir tenggelam ketika perahu jukung yang kita tumpangi menyebrangi Segara Anakan tiba – tiba terbalik di Perairan Klaces Nusakambangan. Ya, satu peristiwa berat yang akhirnya bisa kita lewati dengan kesabaran dan kuasa Tuhan Yang Maha Pelindung.

Ikbal, perlu kamu tahu. Setelah berpisah dua tahun lebih, sore tadi aku kembali bertemu dengan Sandi. Si Sexofonis kini sedang cuti dinas dan dia menemuiku di areal tambak Ujung Alang. Jujur, setelah pertemuan dengan Sandi, aku menjadi teringat dengan persahabatan kita dulu. Aku kembali terkenang, ketika dulu kita sering berlama berdiri di Tanjung Intan. Menyabung persendian dengan udara dingin Segara Anakan. Saksikan bulan yang terbit menyembul di antara lambung – lambung dermaga. Saksikan kapal – kapal yang berlabuh menyandarkan bayangan memanjang. Barangkali kamu pun masih ingat, setiap Tanjung Intan memperdengarkan denyut nadi keletihan, kita selalu berkesimpulan : ‘tiga sahabat’ hanya akan terpisah oleh kuasa Tuhan, bukan oleh warna senja yang selalu lenyap meninggalkan permukaan laut.

Ikbal, tentang Tiffany, mungkin hanya kamulah yang tahu. Entah mengapa tiba – tiba aku pun harus kembali teringat dengan gadis Aceh itu. Apakah karena pertemuanku dengan Sandi, sehingga aku merasa merindukan sederet kenangan tentang Mozaik. Atau entah karena hal yang lain. Jujur, aku menjadi ingin kembali masuk ke Mozaik Orchestra.

Ikbal, mungkin masih banyak hal yang ingin aku sampaikan. Namun untuk kali ini itulah ceritaku, kawan. Selamat berjuang, selamat berpetualang !

Dariku : Maulana Cauda.

Cauda terpekur.

Malam terus bergerak larut.

0 komentar:

Posting Komentar

About